haruskah takluk pada cerutu raksasa

Suara adzan mencairkan kesunyian malam. Seorang bocah mengenakan pakaian koko putihnya. Sampah-sampah daun, plastik, dan sedotan memenuhi ruas jalan karena semalam hujan. Bocah berkulit hitam dengan luka di atas alis dan rambut sedikit berdiri beberapa menit sambil menyandar pada depan pintu rumah tetangganya. Sesaat kemudian pintu itu dibuka dan bocah itu nyaris jatuh. Seorang anak tinggi kurus memakai baju koko hijau muda keluar. Ia sepertinya seumuran dengan bocah yang pertama.

Mereka pergi menuju arah datangnya adzan bersama-sama. Keduanya sama-sama tidak memakai sandal. Mereka menelusuri sawah, gang-gang, hingga sampai masjid. Merak menyaksikan langsung bulan berbentuk bulat pepat, rasi bintang layang-layang di langit selatan, dan menyaksokan langsung perubahan warna langit dari biru tua kehitaman menjadi biru muda kehitaman.

Seusai ibadah, mereka lantas berburu laron di pagi itu. Beberapa jam kemudian mereka bersiap ke sekolah tanpa bersepatu, tanpa berseragam. Di perjalanan mereka menyapa guru mereka yang juga ke sekolah dengan sepeda onthel.

“Purnomo, Riawan, ikut bapak yuk,” Pak guru itu memberi tumpangan pada kedua bocah lugu ini. Udara masih segar, masih aman masuk paru-paru. Tanaman masih lebat di kebon-kebon. Mulai dari pohon pinus, jati, pisang dan sebagainya. Hari itu mereka belajar menanam pohin di pekarangan belakang sekolah. Mereka sudah biasa mandi lumpur, maklumlah, ayah mereka petani, hanya Riawan yang ayahnya bekerja sebagai pengrajin gerabah.

Orang-orang berdasi itu sibuk mengulur dan menarik meteran kuning agak karatan. Merka menunjuj-nunjuk arah yang mereka inginkan. Berkali-kali mereka membuka gulungan bergambar sketsa bangunan yang mungkin akan menjadi bangunan terbesar di dusun itu. Sesekali orang-orang asing itu tertawa yang menyatakan keramahan. Mereka mengetuk dan menendang-nendang pohon-pohon. Salah seorang dari mereka, seseotang yang beramata sipit, berkulit putih, berkacamata dengan memakai hem lengan panjang mengeluarkan ponselnya, tetapi ia memasukkannya lagi.

“Baik kita mulai bulan depan,” Ujar orang itu. Mereka lalu saling berjabat tangan

Sebulan kemudian warga resah , bunyi motor yang berteriak semakin menjadi-jadi. Ditambah denagn tangan dan sekop raksasa milik traktor yang mambolak-balik tanah berwarna merah kecoklatan. Kayu ditanam dan saling dihibungkan dengan benang kenur. Bahkan wilayah itu kini ditutup swnga berwarana perak. Orang-orang mengintip dari lubang1x1 cm pada seng. Lubang yang digunakan untuk mengikat setiap seng dengan kawat karatan. Pohon-pohon kelapa jatuh terkena imbas dari gaya grafitasi setelah tubuhnya di potong. Buahnya pecah, keluar air.

Setahun kemudian tenpat itu menjelma manjadi sebuah pabrik. Lahan yang dulu milik bersama dimana pohon pinus dan jati bersemayam, tempat anak-anak mencari buah talok dan sukun kini telah menjadi pabrik batik, tulisan “Batik Radita” dicat dengan jelas pada papan berbahan alumuniun. Dilengkapi setidaknaya enam cerobong asap bercorak lurik putih oranye dengan diameter sekitar dua meter dan senantiasa mewarnai langit biru denagn warna hitam , mirip ceritu raksasa. Dalam jangka waktu hanya sepuluh tahun, tak kurang dari sembilan puluh pabrik dan perkantoran beradu ketinggian bangunan.

Dari gardunya, sambil beristiraqhat sejenak, Pak Purnomo menceritakan kejadian empat puluh tahun lalu kepada putranya. Sembari meminum teh pahit dan jadah blondo kesukaannya, ia bercerita.

Le, desa kita dah beda banget sama dulu. Sekarang desa kita ini dah jadi kota. Dulu waktu bapak masih seumuranmu itu, bapak di situ dulu disuruh metik buah duwet buat obat, Sekarang tempat itu udah jadi pabrik mebel. Kalau di gedung biru itu, yang di atasnya ada parabola itu, dulu tempat bapak sekolah, sama temen bapak, Riawan namanya. Dulu di belakang sekolah banyak pohon-pohon. Itu dulu bapak yang menanam waktu kelas empat. Ya, bapak juga nggak tahu kok pada suka bikin pabrik di tempat yang masih banyak sawahnya ini,”Begitu kenangnya mengenai desananya dulu. Tetapi kini pabrik-pabrik dan gedung-gedung berkompetisi menghasilkan asap dan polusi.

Limbah berwarna hijau berbusa bersenyawa denagn air irigasi dan aromanya sukses membuat hidung peka dan mual-mual. Dalam ekosistem, jelas cairan hijau itu merusak unsur abiotik, yaitu air. Air itu kelak akan digunakan untuk membasahi sawah. Disini hukum alam berlaku, jika unsur abiotiknya kacau,maka unsur biotiknya turut kacau. Ratusan hektar sawah yang menjadi pusat kehidupan warag kini gagal panen total.

Tahun itu produksi beras menurun signifikan. Pak Purnomo hari itu memanggul berasnya ke KUD.

“Pak, berasnya cuma dikit, air irigasinya dah tercemar limbah pabrik. Padahal waktu saya masih kecil, bapak saya dulu kalau panen banyak banget. Sekarang ya, gara-gara limbah pabrik, produksi menurun,” Pak Purnomo lagi-lagi mengenang masa lalu sambil melepas capingnya. Bekas luka di atas alisnya saat masih kecil telah sirna.

“Ya, kondisi dah berubah, pohon-pohon dah di sasak habis. Anakkku yang lulus SMK itu katanya mau ngalamr di pabrik plastik yang di deket perempatan itu, ya nggak aku bolehin, bikin plastik itukan asapnya banyak, bikin desa makin ngeri. Udah pohon ilang, dibonusin asep item lagi, ya udah, tak suruh dia kerja bengkel aja,” Penjaga KUD itu menimpali ucapan Pak Purnomo sambil jari telunjuknya menekan kalkulator dengan cepat, antara jari telinjuk dan jari tengahnya ada bolpen hitam tanpa tutup.

“Kemarin juga,Pak Karso biasanya bawa gandum sepuluh karung, kemarin cuma bawa dua karung,” Penjaga itu melanjutkan. Sejenak kemudian Pak Purnomo mengambil koran lokal berita utamanya ditulis dengan judul Limbah Pengaruhi Hasil Tani dan Nelayan. Pak Purnomo mengeluarkan kacamata plusnya yang berbentuk kotak. Ternyata limbah tidak hanya mempengaruhi pertanian di kabupaten itu, tetapi meluas hingga kabupaten lain, merusak tambak bahkan membuat warga terserang penyakit pernapasan akibat aroma air sungai yang kualitasnya buruk. Warga kabupaten sebelah berencana pindah ke desa lain yang masih asri dan jauh dari cerutu raksasa.

“Lha,apa hubungannya cerobong asap pabrik sama hasil panen?” Pak Purnomo heran.

Tetapi ia melanjutkan membaca lagi. Sekarang ia tahu bahwa menurut dosen geografi dari Universitas Indonesia, asap pabrik yang mengandung karbon dioksida dan karbon monoksida melayang hingga lapisan ozon dan bersenyawa dengan air hujan menghasilkan senyawa asam sulfat, asam nitrat, dan asam bikarbonat dan terjadilah hujan asam. Hujan asam sangat memepengaruhi air sungai, danau, dan sawah menjadi sangat asam dan merusak tanaman, bahkan logam serta berpotensi merusak biota air sungai. Sementara limbah pabrik yang bersifat merusak dikenal dengan istilah polutan. Namun sayang, para pemilik pabrik itu tidak mau diajak kompromi,mereka mengaku memilih desa itu untuk membuka pabrik karena sudah tidak ada lahan lagi di kota-kota besar.

Seusai membaca artikel yang sedikit menambah pengetahuannya itu, Pak Purnomo bergegas menerima uang dari penjaga KUD yang ramah itu semabari berucap sekecap kalimat terima kasih. Dalam perjalanan, ia memikirkan rencana untuk pindah ke kabupaten lain yang air dan udaranya masih bersih. Ia menimbang-nimbang. Karena seriusnya berpikir, sampai ia tersasar ke gang lain. Akrirnya ia mengambil keputusan untuk mengajak keluarga dan petani lain untuk pindah bersama rombongan dari kabupaten lain.

Le, besok, Hari Rabu,kita mau pindah ke kabupaten sebelah, Rumah ini nanti mau dijual. Kita beli rumah baru. Kita bertani di wilayah baru,” Namun ucapannya tak digubris oleh anaknya sendiri yang sedang asyik bermain kelereng. Kasihan, putranya tidak tahu betapa seriusnya masalah ini.

Lima hari berikutnya, ditemani fajar menyingsing, Pak Purnomo beserta keluarga dan ratusan petani senasib melakukan pindahan akbar dan melangkah ke kabupaten lain yang cukup jauh karena kabupaten yang dekat-dekat juga telah tercemar limbah. Sawah-sawah dan tambak tak layak pakai ditinggalkan. Dan mereka membuka lahan baru.

Tetapi kebahagiaan kaum tani dimulai, menjadi awal malapetaka bagi masyarakat yang ditinggal. Beras semakin langka di kabupaten yang ditinggalkan ras tani. Dan harga beraspun melinjak mahal sekali. Kemahalan beras membuat semua barang turut naik harga. Bahkan harga permen jahe dengan volume 1x1x0,5 cm pun menjadi dua ratus rupiah per biji. Beras yang dijual di kios-kios hanyalah beras bermutu rendah yang dibuat petani yang masih konsisten menggarap sawah di kabupaten itu, dimana mereka mengandalkan air polutan untuk menghidupi padinya, serta menyiram padinya denagn air hujan asam. Kenaikan semua harga ini menjadi headline terpanas dalam surat kabar, dan pabrik-pabrik ditudung sebagai penyebab semua ini.

Wilayah yang dulunya penuh tanaman dan tanah kosong untuk daerah serapan air hujan kini berubah total. Berbulan kemudian saat musimnya turun air dari langit, turunlah hujan dengan dahsyatnya. Semua yang ada di langit seperti ditimpakan ke bumi. Kumpulan air yang menjadi air bah itu tidak bisa dicegah lagi, sudah terlambat. Penyebabnya cukup mudah: wilayah resapan air digali, dimasukkan pondasi, dituutp semen, dan terciptalah pabrik. Air berwarana coklat sempurna menghalau orang-orang ke rumah dan memilih mengungsi ke rumah kerabat. Turut hanyut sampah, sandal, dan boneka yang tangannya hilang. Air bah itu juga merendam pabrik dan perkantoran, Lantas mesin-mesin pabrik konslet bahkan meledak, dokumen-dokumen yang penting dan mumpuni milik perkantoran lenyap, ribuan lusin kertas HVS pada pabrik kertas binasa, dan berliter-liter bahan pewarna batik disapu air membuat air banjir sedikit warna-warni.

Kejadian itu memjadi titik awal kesadaran beliau-beliau yang menjadi presiden direktur pabrik dan perkantoran. Mereka mengambil pelajaran dan kesimpulan dari semua ini. Mereka berikrar akan menyaring limbah pabrik sebelum dibuang, dan membatasi produksi agar tidak berlebihan. Mereka juga akan mengganti tanaman yang telah mereka rusak di wilayah lain, mencegah terjadinya fenomena pembangunan pabrik dan gedung lagi, serta tentunya menyejahterakan kaum tani.

Setahun kemudian tak tampak lagi polutan berwarna hijau bergelembung. Petani mau menggarap sawahnya lagi dengan air irigasi yang bening transparan. Produksi beras meningkat. Lalu bagaiman nasib Pak Purnomo? Ia memutuskan kembali ke kabupaten yang dulu, dan untung saja rumahnya yang lama belum terjual. Dan ia menggarap sawah lamanya. Ia memeluk putranya yang berumur sembilan tahun dan terjadilah tatapan mata. Pak Purnomo hanya mengucapkan satu kalimat:

“ Akhirnya semua selesai,” Tetapi anaknya bertanya: “Pak sebetulnya temen bapak yang namanya Riawan itu sekarang kabarnya bagaimana?”

“ Oh, sama seperti bapak, ia melanjutkan usaha ayahnya, yaitu pengrajin tanah liat yang sukses, makanya kamu jangan seperti bapakmu ini yang pekerjaannya hanya petani, jadi pekerja pabrik juga boleh, tapi pabrik ramah lingkungan ya atau juga mau jadi petani tetapi petani modern dan berkualitas,” Tiba-tiba terdengar suara dari para petani untuk mengajak Pak Purnomo pergi ke sawah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s